psikologi proaktif

mengapa keberuntungan lebih sering mendatangi orang yang banyak mencoba

psikologi proaktif
I

Pernahkah kita memperhatikan satu atau dua orang di sekitar kita yang hidupnya seperti selalu dianakemaskan oleh semesta? Mereka mendapat tawaran kerja terbaik, memenangkan undian yang iseng-iseng mereka ikuti, atau tidak sengaja bertemu jodoh di kedai kopi. Kita sering menyebut mereka orang yang hoki. Saya dulu berpikir keberuntungan adalah lotre kosmik. Seolah alam semesta memang pilih kasih.

Pernahkah teman-teman merasa begitu? Seperti kita sudah bekerja keras setengah mati, tapi si "beruntung" ini melenggang santai dan mendapat segalanya. Mari kita lihat sejarah sejenak. Kisah Alexander Fleming sering disebut sebagai puncak keberuntungan murni. Ia meninggalkan laboratoriumnya dalam keadaan berantakan, pergi liburan, dan saat kembali, ia menemukan jamur telah membunuh bakteri di cawan petrinya. Boom, penisilin lahir. Sejarah mencatatnya sebagai ketidaksengajaan yang beruntung.

Tapi, ada satu rahasia besar yang sering kita lewatkan. Fleming menghabiskan waktu bertahun-tahun mengamati bakteri sebelum jamur itu datang. Matanya sudah terlatih. Jadi, apakah keberuntungan itu murni keajaiban yang jatuh dari langit, atau jangan-jangan, ia adalah sesuatu yang sebenarnya bisa kita rekayasa?

II

Untuk menjawabnya, kita perlu berkenalan dengan seorang psikolog brilian bernama Richard Wiseman. Pada awal tahun 2000-an, ia melakukan studi panjang yang disebut The Luck Project. Ia mengumpulkan ratusan orang yang merasa dirinya "sangat beruntung" dan "sangat sial". Wiseman ingin tahu, apakah otak mereka bekerja dengan cara yang berbeda?

Ia lalu memberikan eksperimen sederhana. Wiseman membagikan sebuah koran kepada kedua kelompok dan meminta mereka menghitung jumlah foto di dalamnya. Kelompok yang merasa sial rata-rata menghabiskan waktu dua menit untuk menghitung satu per satu. Kelompok yang merasa beruntung? Mereka menyelesaikannya hanya dalam hitungan detik.

Mengapa bisa begitu? Karena di halaman kedua koran tersebut, Wiseman telah mencetak tulisan raksasa yang menutupi setengah halaman: "Berhenti menghitung, ada 43 foto di koran ini."

Kelompok yang sial melewatkannya begitu saja. Secara psikologis, mereka terlalu fokus, terlalu tegang, dan terlalu kaku pada instruksi "menghitung foto". Di sisi lain, kelompok yang beruntung lebih santai. Pandangan mereka lebih luas, sehingga mereka lebih peka terhadap peluang di sekitarnya. Dari sini, sains mulai membuktikan satu hal: keberuntungan perlahan tidak lagi terlihat seperti sihir, melainkan sebuah kondisi psikologis.

III

Sekarang, teka-tekinya menjadi semakin menarik. Jika keberuntungan "hanya" masalah menjadi lebih rileks dan terbuka terhadap peluang, mengapa kita tidak melakukannya setiap hari? Mengapa kita lebih sering memilih diam di zona nyaman yang bisa diprediksi, daripada mencoba hal-hal baru?

Ternyata, kita sedang bertarung melawan sejarah tubuh kita sendiri. Secara evolusioner, otak kita didesain untuk satu tujuan utama: bertahan hidup. Bukan untuk bersenang-senang, apalagi mencari hoki. Kita mewarisi apa yang disebut negativity bias. Nenek moyang kita yang terlalu santai dan suka mencoba hal baru—misalnya penasaran memeluk harimau purba—tentu tidak berumur panjang untuk mewariskan gennya. Otak kita membenci ketidakpastian.

Jadi, setiap kali kita mau mencoba sesuatu yang baru, amigdala di otak kita akan membunyikan alarm tanda bahaya. Ia membisikkan rasa takut gagal dan takut ditolak. Tapi, di sinilah letak ironi terbesarnya. Dunia modern kita tidak lagi dipenuhi predator mematikan, melainkan dipenuhi peluang tanpa batas.

Jika kita menuruti rasa takut purba tersebut, kita akan jalan di tempat. Namun, ada satu konsep matematika sederhana yang menjelaskan mengapa orang yang berani melawan alarm otaknya, dan terus mencoba hal baru meski sering gagal, pada akhirnya selalu menang. Rahasia apa yang mereka miliki?

IV

Inilah momen penemuannya. Teman-teman, mari berkenalan dengan konsep luas permukaan keberuntungan atau Luck Surface Area.

Bayangkan keberuntungan itu seperti anak panah yang ditembakkan secara acak dan buta dari langit. Kalau kita hanya diam di kamar, melakukan rutinitas yang itu-itu saja, dan tidak pernah berani mencoba hal baru, target yang kita pasang sangatlah kecil. Mungkin hanya sebesar koin. Peluang anak panah itu mengenai kita sangatlah tipis.

Tapi, setiap kali kita mengambil langkah proaktif—mencoba hobi baru, mengirim email kepada mentor impian, mempublikasikan karya yang belum sempurna, atau sekadar menyapa orang asing di acara seminar—kita sedang memperlebar target tersebut. Dari yang tadinya sebesar koin, kini menjadi sebesar lapangan bola.

Dalam dunia psikologi, ini disebut perilaku proaktif. Orang-orang yang "beruntung" sebenarnya tidak memiliki sihir. Mereka hanya terus-menerus menciptakan collision points atau titik benturan dengan probabilitas. Mereka merekayasa apa yang kita sebut serendipity.

Fakta ilmiahnya memang terdengar keras tapi membebaskan: orang-orang yang sukses bukannya tidak pernah gagal. Secara statistik, mereka justru jauh lebih banyak gagal dibandingkan orang biasa. Mereka terus memutar dadu berkali-kali, mengumpulkan data dari kegagalan, sampai akhirnya angka enam muncul. Mereka menang pada akhirnya karena mereka menolak untuk berhenti memutar dadu.

V

Jadi, mari kita ambil napas sejenak dan melihat di mana posisi kita sekarang. Memikirkan semua ini rasanya sangat melegakan, bukan?

Kita tidak perlu lahir di bawah rasi bintang tertentu untuk menjadi beruntung. Kita tidak harus menjadi genius tingkat dunia atau memiliki bakat supranatural. Yang kita butuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk memperlebar luas permukaan keberuntungan kita sendiri. Kegagalan bukanlah tanda bahwa alam semesta membenci kita; itu hanyalah probabilitas matematika yang sedang bekerja.

Hari ini, mari kita ubah cara kita memandang dunia. Coba lakukan satu hal kecil yang sedikit di luar zona nyaman. Kirimkan satu pesan yang sudah lama tertahan. Tulis satu paragraf untuk proyek yang tertunda. Ambil rute jalan pulang yang berbeda.

Mungkin hari ini panah keberuntungan itu masih meleset, dan itu sama sekali tidak apa-apa. Otak kita mungkin akan sedikit panik dan protes, tapi kita sekarang tahu sains di baliknya. Kita sedang tidak bertaruh dengan nasib, kita sedang bermain dengan probabilitas. Mari kita putar dadunya sekali lagi, teman-teman. Siapa tahu, hari ini adalah giliran kita menjadi si anak emas semesta.